Ini kisah tentang rumah, tempat yang mengizinkanmu gagal berkali-kali. Di sini kau boleh lelah, kau boleh mengeluh. Di sini pula kau boleh salah, kau boleh marah. Bila perjalananmu sudah terlalu jauh dan melelahkan, pulanglah. Ambil selimut, menangislah. Ambil segelas teh hangat, teguklah. Bila kau sudah cukup kuat, kau boleh berkelana lagi. Dan rumahmu akan selalu setia menunggumu kembali.\\\\…
Ini adalah Hari Bebas Bicara di Negara Kesatuan Adat Lawaknesia (NAKAL). Siapa saja boleh berbicara secara gamblang, terang-terangan, tanpa takut akan konsekuensi hukum. Setiap warga negara berhak berbicara: membongkar kejahatan, membeberkan penipuan, maupun mengungkapkan keburukan. Tujuannya, agar tercapai keadilan untuk seluruh rakyat. Namun, kawan, tujuan mulia ini berubah menjadi awan hi…
Ale, seorang pria berbadan bongsor yang ditolak oleh masyarakat sosial. Tiga puluh tujuh tahun usianya, dia hidup tanpa berteman dan tanpa makna. Ale didiagnosa oleh psikiater mengidap depresi. Di tempat kerjanya, dia tak memiliki rekan dekat, bahkan cenderung dijauhi. Ia punya masalah dengan bau badan karena tubuhnya yang besar lebih sering menghasilkan keringat. Bukannya ia tidak peduli, ia p…
Namaku Rizki. Usiaku empat belas tahun. Saat ini aku berdiri di depan panti asuhan, membawa dua adik perempuanku. Bukan. Aku bukan anak yatim piatu. İbuku masih hidup. Tapi, dua menit yang lalu adalah terakhir kali aku bertemu dengan ibu. Hingga kelak aku dewasa, kami tak pernah bertemu lagi. Sementara ayahku tewas tertembak. Panti asuhan ini bukan panti asuhan selayaknya. Dari luar mema…
Aku bisa Kehabisan air mata Tapi tak pernah bisa Kehabisan cinta Mengapa tega Kau abadikan luka